Blog

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah persimpangan sejarah yang tidak sederhana. Setelah melewati satu abad perjalanan, NU tidak lagi hanya dituntut menjadi penjaga tradisi, pengawal pesantren, atau rumah besar kaum nahdliyin.

    Di abad keduanya, NU sedang dipanggil untuk memasuki ruang yang lebih luas: menjadi kekuatan moral, intelektual, sosial, dan peradaban.

    Transisi NU hari ini bukan sekadar pergantian generasi. Ia jauh lebih dalam dari itu. Ini adalah pergeseran zaman. Dari era khidmah kultural menuju era kepemimpinan global. Dari organisasi massa keagamaan menuju kekuatan peradaban. Dari sekadar merawat warisan para masyayikh menuju keberanian membaca masa depan.
    Di titik transisi semacam inilah, nama Gus Hery Haryanto Azumi menarik untuk diperhatikan.

    Bagi saya, Gus Hery bukan sosok yang hadir tiba-tiba dalam percakapan ke-NU-an. Ia bukan figur yang baru belajar membaca denyut organisasi ketika namanya mulai disebut dalam ruang-ruang kepemimpinan. Perjalanannya panjang. Ia tumbuh dari dunia aktivis, ditempa oleh pergulatan kaderisasi, dibentuk oleh diskusi, perdebatan, pengorganisasian, serta kerja-kerja lapangan yang tidak selalu tampak di permukaan.

    Salah satu fase penting dalam perjalanan itu adalah ketika Gus Hery dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PB PMII. Posisi itu tentu bukan sekadar jabatan organisasi mahasiswa. PMII adalah salah satu kawah candradimuka kader-kader muda NU.

    Dari ruang itulah banyak aktivis belajar memahami umat, membaca negara, mengelola perbedaan, dan menyiapkan diri untuk memasuki gelanggang kebangsaan yang lebih luas.

    Menjadi Ketua Umum PB PMII berarti pernah berada di tengah simpul besar pergerakan mahasiswa nahdliyin. Ia harus berhadapan dengan dinamika kader dari berbagai daerah, keragaman cara berpikir, perbedaan kepentingan, sekaligus tuntutan untuk menjaga arah organisasi.

    Dari sana, seseorang tidak hanya belajar berbicara. Ia belajar mendengar. Tidak hanya belajar memimpin. Ia belajar menanggung beban. Jejak aktivisme semacam itu penting untuk dibaca. Sebab kepemimpinan NU tidak cukup hanya ditopang oleh popularitas atau kedekatan dengan struktur.

    NU terlalu besar jika hanya didekati dengan cara-cara administratif. Ia membutuhkan sosok yang memahami denyut kader, mengenal kultur pesantren, mengerti bahasa aktivis, dan mampu menjahit berbagai kepentingan tanpa kehilangan kejernihan sikap.

    Dalam hal itu, Gus Hery memiliki modal yang tidak kecil. Ia adalah intelektual muda NU yang memiliki daya pikir kuat, jejaring luas, dan cara bicara yang teduh. Ia tidak hadir dengan suara gaduh. Tidak pula membawa gaya kepemimpinan yang gemar menepuk dada. Namun dari cara ia memandang persoalan, terasa ada kedalaman yang tidak dibuat-buat.

    NU membutuhkan sosok-sosok seperti itu dalam masa transisinya. Sebab abad kedua NU tidak bisa dijawab hanya dengan romantisme sejarah. Kita tentu harus menjaga warisan ulama, pesantren, kitab kuning, tahlil, bahtsul masail, dan seluruh kekayaan tradisi ahlussunnah wal jamaah. Tetapi menjaga tradisi tidak berarti berhenti bergerak. Tradisi justru akan hidup jika ia mampu berdialog dengan zaman.

    Tantangan NU hari ini sudah berubah. Lawan zaman tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata. Ia bisa berupa algoritma, ketimpangan ekonomi, krisis moral, disrupsi teknologi, polarisasi politik, kemiskinan struktural, hingga penjajahan cara berpikir. Dunia bergerak cepat, sementara umat sering kali masih dipaksa bertahan dalam persoalan-persoalan dasar.

    Di sinilah transisi NU menjadi penting. NU harus tetap menjadi jangkar moral masyarakat, tetapi pada saat yang sama harus mampu menjadi navigator masa depan. Ia harus menjaga akar pesantren, namun pikirannya mesti sanggup menembus percakapan global. Ia harus tetap teduh dalam wajah keislaman, tetapi berani dalam merumuskan arah peradaban.

    Gus Hery, dalam pandangan saya, memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan zaman itu. Ia memahami bahwa NU tidak cukup hanya besar secara jumlah. NU harus besar secara gagasan. Tidak cukup hanya kuat secara struktur. NU harus kuat secara arah. Tidak cukup hanya memiliki massa. NU harus mampu melahirkan pemikiran, kebijakan, kader, dan ekosistem perubahan.

    Pengalamannya sebagai aktivis, terutama saat memimpin PB PMII, memberi warna tersendiri pada cara pandangnya. Ia memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar urusan formal organisasi. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia: membentuk keberanian, kepekaan sosial, keluasan bacaan, dan kesediaan berkhidmah. Dari rahim pergerakan itulah, Gus Hery belajar bahwa gagasan besar hanya bermakna jika sanggup menyentuh kehidupan umat.

    Kekuatan Gus Hery terletak pada kemampuannya menjembatani banyak ruang. Ia berasal dari rahim santri, tumbuh dalam tradisi pergerakan, dan memiliki jejaring lintas sektor. Ia dapat berbicara dengan aktivis, ulama, intelektual, pengusaha, hingga jejaring internasional tanpa kehilangan adab santri. Ini bukan kemampuan kecil. Dalam masa transisi, NU membutuhkan figur yang bisa menjadi jembatan, bukan sekadar pengeras suara.

    Karena transisi NU tidak boleh melahirkan keterputusan. Yang muda tidak boleh memutus mata rantai dengan yang tua. Yang modern tidak boleh meremehkan yang tradisional. Yang global tidak boleh tercerabut dari pesantren. Yang strategis tidak boleh kehilangan ruh keikhlasan. NU harus bergerak maju tanpa kehilangan wajah teduhnya.

    Gus Hery seperti mewakili kemungkinan itu: santri yang berpikir kosmopolit, aktivis yang tidak kehilangan keheningan batin, intelektual yang tidak berjarak dari masyarakat, dan kader NU yang melihat organisasi ini bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai amanah masa depan.

  • Restu Kiai Manarul Hidayat untuk Gus Hery Maju jadi Ketua Umum PBNU

    Restu Kiai Manarul Hidayat untuk Gus Hery Maju jadi Ketua Umum PBNU

    DEPOK, 6 Juni 2026 – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pondok Pesantren Almanar Azhari di Depok pada Sabtu, 6 Juni 2026. Tokoh sepuh Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Manarul Hidayat, menerima kunjungan silaturahim dari Gus Hery Haryanto Azumi beserta rombongannya. Pertemuan ini menjadi forum penting untuk berdialog mengenai arah dan masa depan Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar NU ke-35.

    Rombongan Gus Hery, yang dipimpin oleh Dr. Fadli Yasir, MA, terdiri dari berbagai kader dan aktivis NU dari beragam latar belakang profesi. Kehadiran mereka disambut gembira oleh KH. Manarul Hidayat, yang mengapresiasi kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, serta komitmen kuat para generasi muda NU.

    “Saya sangat senang menerima kunjungan para kader Nahdlatul Ulama yang memiliki kualitas keilmuan, integritas, dan kepedulian terhadap organisasi. Mereka sesungguhnya adalah para kiai dalam makna substantif — memiliki ilmu, akhlak, dan pengabdian — meskipun tidak selalu melabelkan dirinya sebagai kiai. NU membutuhkan kader-kader seperti ini, yang bekerja dalam sunyi, berpikir untuk kemaslahatan umat, dan berjuang tanpa pamrih untuk membesarkan organisasi, ” ujar KH. Manarul Hidayat.

    Pengasuh pesantren yang dikenal dekat dengan almarhum Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), itu menekankan betapa pentingnya kepemimpinan yang lahir dari proses kaderisasi yang matang di tubuh NU saat ini.

    “Para kader intelektual NU yang memiliki kapasitas, kapabilitas, rekam jejak organisasi, dan rasa takdzim kepada para ulama serta tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk ikut mengurus dan memimpin NU. Organisasi sebesar NU harus dijaga oleh orang-orang yang memahami ruh, sejarah, dan cita-cita para muassisnya agar tetap menjadi benteng umat dan pilar kebangsaan, ” tegasnya.

    Dalam dialog yang berlangsung lebih dari dua jam, KH. Manarul juga menyoroti urgensi regenerasi kepemimpinan yang berasal dari rahim kaderisasi NU.

  • Temu ramah dengan sejumlah PW Nahdlatul Ulama

    Temu ramah dengan sejumlah PW Nahdlatul Ulama

    Calon Ketua Umum PBNU, Gus Hery H. Azumi, melaksanakan temu ramah dengan sejumlah PW Nahdlatul Ulama di Yayasan Talibuana Nusantara, Jakarta. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk bertukar pandangan dan memperkuat komitmen kepemimpinan yang inklusif dan berlandaskan pengabdian bagi NU.